Kegiatan tersebut dihadiri oleh Wakil Dekan I Fakultas Teknik UNTAG Semarang sekaligus dosen pendamping Tigo Mindiastiwi, S.T.,M.Sc, dosen Fakultas Teknologi Pertanian UNTAG Semarang Dr. Ir. Budi Hartoyo, M.P, Kepala Desa Pasigitan Bapak Hartoyo, kader kesehatan, karang taruna, tokoh masyarakat, serta warga Desa Pasigitan.
Kegiatan ini diinisiasi oleh BEM UNTAG Semarang melalui Tim Pelaksana PPK Ormawa Tahun 2026, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan preventif dan pemanfaatan potensi hayati lokal. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan mampu menerapkan pola hidup sehat serta memanfaatkan tanaman herbal untuk mendukung kemandirian kesehatan keluarga secara berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Dosen Pendamping PPK Ormawa, Tigo Mindiastiwi, S.T., M.Sc., menyampaikan bahwa Sekolah Herbal Masyarakat merupakan tahap awal dari rangkaian program Pasigitan Herbasari. Program ini akan dilanjutkan dengan pengembangan rumah TOGA, Pasigitan Herba Park, produk herbal, serta penguatan kelembagaan masyarakat menuju Desa Pasigitan yang sehat, mandiri, dan berdaya.
Kepala Desa Pasigitan, Hartoyo, menyambut antusias pelaksanaan program Pasigitan Herbasari. Ia berharap program ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan melalui PHBS serta pemanfaatan TOGA secara tepat dan berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Dr. Ir. Budi Hartoyo, M.P. menjelaskan bahwa PHBS merupakan fondasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif. Kesadaran terhadap kesehatan, menurutnya, perlu dimulai dari individu dan keluarga hingga berkembang menjadi budaya di tengah masyarakat.
“PHBS merupakan rekayasa sosial yang bertujuan menjadikan masyarakat sebagai agen perubahan menuju kehidupan yang lebih bersih dan sehat,” ujarnya.
Selain membahas PHBS, peserta diperkenalkan dengan berbagai jenis dan khasiat Tanaman Obat Keluarga (TOGA), seperti jahe, kunyit, temulawak, kelor, kumis kucing, meniran, rosella, seledri, dan jambu biji. Masyarakat juga didorong untuk memanfaatkan pekarangan sebagai ruang budidaya tanaman herbal yang bermanfaat bagi keluarga.
Dr. Ir. Budi Hartoyo, M.P. menegaskan bahwa tanaman herbal bukan pengganti pengobatan medis, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif apabila digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari masyarakat. Peserta aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai pemanfaatan tanaman herbal serta penerapan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui program Pasigitan Herbasari, Tim PPK Ormawa BEM UNTAG Semarang berharap Sekolah Herbal Masyarakat dapat berkembang menjadi gerakan pemberdayaan yang mendorong terwujudnya Desa Pasigitan yang sehat, mandiri, dan berdaya melalui pemanfaatan potensi herbal lokal.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan.

