Kisah ini bermula pada tahun 2019, ketika tim IOM yang dipimpin Dr. Eko Nursanty bersama M. Fahd Diyar Husni mengajukan keanggotaan ke Asian Academy for Heritage Management (AAHM) — jejaring pendidikan, pelatihan, dan riset pengelolaan warisan budaya yang didirikan UNESCO dan ICCROM pada 2001. Setelah melalui proses seleksi yang ketat, termasuk pemaparan profil di hadapan Komite Eksekutif AAHM yang bersidang di Southeast University, Nanjing, Tiongkok, UNTAG Semarang resmi diterima sebagai anggota pada 15 Agustus 2020 dengan nomor keanggotaan Institutional Affiliate No. IM080.
Kepercayaan jejaring itu segera berbuah. Dua tahun berturut-turut, 2020 dan 2021, UNTAG Semarang memenangkan hibah riset internasional UNESCO Chair Research Grant dari Korea National University of Cultural Heritage (KNUCH), Republik Korea, masing-masing senilai 5.000.000 KRW (sekitar Rp57,7 juta) per tahun. Kedua riset tersebut mengangkat pelestarian kota pusaka Semarang dan Surakarta, dan hasilnya dipublikasikan dalam jurnal internasional oleh pihak Korea.
Namun babak paling bermakna datang kemudian. Ketika krisis politik Myanmar melumpuhkan kampus-kampus dan menghentikan pembelajaran, IOM UNTAG Semarang membuka pintu. Dimulai dari satu mahasiswa Arsitektur pada 2022, program ini tumbuh menjadi 3 mahasiswa pada 2024, mencapai puncaknya dengan 12 mahasiswa pada 2025 — tersebar di Program Studi Arsitektur, Teknik Sipil, dan Teknik Kimia — dan berlanjut dengan 4 mahasiswa pada 2026.
Seluruh mahasiswa angkatan 2022 dan 2024 menerima beasiswa penuh biaya studi dari UNTAG Semarang. Sejak 2025, universitas memberlakukan seleksi beasiswa kompetitif bagi tiga mahasiswa terbaik setiap angkatan. IOM mendampingi mereka secara menyeluruh: dari penerbitan Letter of Acceptance, pengurusan keimigrasian, rekognisi capaian pembelajaran, hingga adaptasi budaya dan pemantauan studi setiap semester.
“Kerja sama internasional yang sejati tidak berhenti pada dokumen MoU. Ia hadir ketika sebuah universitas mampu menjadi rumah bagi mereka yang kehilangan ruang belajarnya. Itulah wujud nyata Diktisaintek Berdampak,” ujar Prof. Dr. Eko Nursanty, ST, MT, Direktur International Office and Mobility UNTAG Semarang.
Perjalanan tujuh tahun ini — dari keanggotaan jejaring UNESCO, hibah riset internasional, hingga program kemanusiaan pendidikan — kini diajukan UNTAG Semarang dalam Anugerah Kerja Sama Diktisaintek (AKD) 2026 kategori Perguruan Tinggi dengan Kerja Sama Internasional Paling Berdampak. (IOM/Humas UNTAG Semarang)

